Setiap hari aku berjalan maju pada kematian.
Memeluk diri yang kedinginan dan takut akan masa depan
“Satu fase lagi, beberapa fase lagi”
Menggigil, akankah esok masih ada atau aku meniada.
Cinta adalah fase yang tak pernah kumengerti sebelumnya. Aku selalu membayangkan cinta sebagai aroma hutan yang dingin, api di tengahnya yang hangat, dan pelukan lengan sendiri sebagai pelipur tidur di atas tikar sebagai pengembara kesepian yang menemukan rumah, dan bulan gemintang adalah dongeng ibu yang tersambung kembali setelah ia menamatkannya lima belas tahun lalu dongeng ibu yang tersambung kembali setelah ia menamatkannya lima belas tahun lalu. Cinta adalah kenangan masa kecil yang utuh.
Aku akan bangun dengan melihat hutan sebagai diriku yang lain. Sepi, lengang, dan menyimpan segala dalam lengkungannya yang tunduk di depan tempatku bangun adalah sungai tempat perahu mainanku berlabuh. Apakah sekarang ia menjadi sampan atau kapal nelayan?. Apakah ia sedang memeluk dirinya sambil berkata,
Satu fase lagi, beberapa fase lagi
“Sampai akhirnya ia karam?”
Aku
ingat kau sebagai satu warna yang terputar di rekaman usang di angka
ganjil kesukaanku. Aku ingat kau sebagai pencerita masa depan yang ulung
melarungkan kenangan sebagai cinta yang pantas untuk dipeluk, bukan
dihuni. mengenalkan fase yang kutakutkan sebagai waktu yang
dianugerahkan Tuhan. Malam ini, aku kembali memandang warnamu dalam
balutan rasa yang kusebut tenang. Mengingat kau sebagai peredam
ketakutan. Mari sini sayang, dekap ketakutanku dan berjalan ke masa
depan.
Satu fase lagi, beberapa fase lagi
“Sampai akhirnya ia karam?”
Aku mendengar kapal mainanku yang telah ditunggangi nelayan bertanya dari pelabuhan kota.
Tidak, sampai akhirnya kita selesai dengan tenang, Satu fase, dua fase, tiga fase, beberapa fase, banyak fase.
Aku akan melewati banyak ketenangan Bersamamu, sayang.
Aku akan membunuh banyak ketakutan
( Ulfi Khasanah )
0 Komentar