Perputaran waktu hari ini menunjukan beberapa pertanda yang dapat dimaknai dengan cara yang dinamis.  Seperti yang ada pada pikiran kami, minggu lalu. Semua serentak berjalan mengalir. kemudian Tuhan turun tangan memberikan gejala-gejala yang baru. Ini merupakan hal aneh dalam catatan-catatan yang sejauh ini telah kami tuliskan. Kami mencoba menguraikan ini dari beberapa bait kosakata, agar ceritanya menjadi runtut, sesuai dengan cara pandang manusia- manusia bijaksana. Garis-garis tangan ini menuju pada sebuah rekayasa yang sudah Tuhan gambarkan melalui goresan-goresan kecil bernama realita. 

Sulit menebak tanda-tanda yang awalnya seperti menjemu, terlepas dari prahara-prahara yang disamarkan oleh beberapa ornamen bahagia. Sementara, cerita bawah sadar ini mengalir, seolah tengah dikemudikan pada hamparan rute panjang, dimana banyak terdapat jalan-jalan alternatif yang akan menjadi salah satu fase pendewasaan atau bahkan kadang dapat dengan mudah menjadi fase kekanak-kanakan.Tuhan merangkai cerita ini seperti membiaskan hal yang mana tiada pernah kami pahami sama sekali sebelumnya, seperti alunan kegembiraan dalam derasnya hujan di malam jum'at, sembilan belas januari kemarin. Ada getar hangat yang menenangkan di mata kami, ketika melihat gerutan-gerutan bahagia pada wajah mereka, dalam sebuah ruang temu yang begitu akrab dan juga memesona. Kemudian seketika semuanya bersenyawa secara sempurna menjadi sebuah warna yang begitu sama. Kami hanya menarik diri, meraba satu titik demi titik yang lain, membentuk sebuah garis panjang terang panjang terang yang bercabang. 

Suatu saat, mungkin kami akan dibutakan situasi, tidak mampu menyadari kebenaran, dan hanya bisa memahami sebuah keburukan, begitupun sebaliknya. Namun pasti, Tuhan akan selalu punya cara yang begitu lembut  untuk senantiasa menangkap kami, seperti apa yang sudah dialami oleh para pendahulu kami. Tidak mudah memang untuk menakhlukan hal semacam ini, bukan seperti bermain dengan hanya menggunakan pikiran yang jernih, akan tetapi mensenyawakan masing-masing ego yang ada, sehingga mampu menumbuhkan kami menjadi sesuatu yang dewasa, supaya selalu bisa mengelola setiap perasaan dalam kaidah cinta yang baik dan benar. 

Kami menyakini segala niatan yang baik pasti akan selalu diberkahi dengan kebaikan.
Tuhan menyelipkan semua ini diantara bait-bait yang tidak terduga. Meramu kami menjadi pribadi yang matang untuk melangkah pada jalan yang bijaksana. Membentuk sebuah hidup baru bersama. Mewarnai gejala-gejala kebaikan dalam sebuah peristiwa-peristiwa yang kami susun dari akar ridho Tuhan.

Pada akhirnya, semua akan kembali kepada yang semestinya. Menghimpun yang terserak, membalut yang terpecah, menyatukan yang terberai, diantara kami berdua. Maka demikianlah, suatu malam yang jum'at dan hujan, yang menjembatani segala sesuatu diantara kami, supaya kami terus mampu bersama, sepanjangnya masa sejauhnya usia.



( Achmad Ali Mahdi )